Demi Ucok
(2013)
Source : DVD RIP
Released
|
03 Januari 2013
|
| Country | Indonesia |
Language
|
Indonesian
|
Genre
| |
| Director | Sammaria Simanjuntak |
Writer
| Sammaria Simanjuntak |
| Starcast | Geraldine Sianturi,Lina Marpaung |
| Rating |
Nama Sammaria Simanjuntak berhasil mencuat di blantika industri film Indonesia setelah filmnya cin(T)a (2009), yang secara cerdas mengangkat tema penceritaan mengenai hubungan cinta antar pasangan yang berbeda agama, mampu mencuri perhatian banyak pecinta film Indonesia dan bahkan berhasil memenangkan penghargaan Penulis Skenario Cerita Asli Terbaik di ajang Festival Film Indonesia pada tahun tersebut.
Lalu apa yang dilakukan Sammaria untuk mengikuti kesuksesan besar tersebut? Empat tahun setelahnya, termasuk setelah beberapa jangka waktu proses pengumpulan dana secara gerilya agar filmnya dapat ditayangkan di layar bioskop nasional, Sammaria akhirnya merilis Demi Ucok, sebuah film drama komedi dengan kisah yang terasa sangat personal plus dengan balutan kebudayaan Batak yang kental.
Demi Ucok berkisah mengenai seorang pembuat film muda bernama Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi) yang akrab dipanggil Glo. Setelah kesuksesan film pertamanya yang berhasil meraih penghargaan film bergengsi, Glo menemui kesulitan besar dalam merampungkan film keduanya.
Tidak hanya terhambat dalam mencari ide cerita yang bagus – dan, yang menurutnya, harus naik kelas jika dibandingkan dengan film pertamanya – Glo juga kesulitan mendapatkan dana untuk memproduksi filmnya tersebut. Satu-satunya bantuan yang dapat ia harapkan berasal dari ibu kandungnya sendiri, Mak Gondut (Mak Gondut).
Sayangnya… bantuan tersebut tidak akan datang begitu saja pada Glo. Mak Gondut adalah seorang wanita yang masih memegang teguh kebudayaan Batak dalam kesehariannya. Baginya, kesuksesan seorang wanita diukur dengan keberhasilannya dalam berumah tangga. Dan khusus untuk seorang wanita berdarah Batak, kesuksesan tersebut masih ditambah lagi dengan kemampuan untuk menikah dengan seorang pria Batak.
Usia Glo yang telah menginjak 29 tahun membuat Mak Gondut selalu memburu-buru puterinya untuk segera mencari jodoh. Guna menarik minat puterinya, Mak Gondut lalu memberikan sebuah penawaran: jika Glo mau menikahi seorang pria berdarah Batak, maka Mak Gondut akan memberikan uang yang cukup untuk biaya produksi film. Sebuah penawaran yang jelas ditolak mentah-mentah oleh Glo. Hasilnya… keduanya lantas terlibat dalam sebuah perang pembuktian kebenaran pendapat masing-masing.
Lewat Demi Ucok, Sammaria Simanjuntak sekali lagi membuktikan bahwa dirinya masih memiliki segudang ide-ide cerita besar untuk dituangkan dalam filmnya. Ketika para pembuat film lain masih kelimpungan untuk mencari ide yang nyeleneh untuk dipresentasikan dalam film mereka atau beralih untuk mengadaptasi karya-karya sastra popular, Sammaria justru berpaling pada pengalaman pribadi dalam kesehariannya, baik sebagai seorang puteri yang berasal dari keluarga berdarah Batak maupun sebagai seorang pembuat film.
Namun, tentu saja, sebuah film tidak hanya dapat mengandalkan ide besar semata. Ide besar tersebut harus dapat dikembangkan menjadi sebuah presentasi cerita yang besar pula. Disinilah letak kelemahan Demi Ucok. Layaknya sebuah mobil yang berjalan cepat, Sammaria seperti menekan penuh gas penceritaan Demi Ucok semenjak film ini dimulai. Hasilnya, Demi Ucok benar-benar terasa hadir dengan ritme penceritaan yang cepat dalam mengenalkan deretan karakter serta komedinya di awal film.
Guyonan yang berisi satir mengenai kondisi sosial, politik, industri perfilman nasional hingga guyonan-guyonan yang bernafaskan kebudayaan Batak berhasil disajikan secara penuh pada separuh awal durasi penceritaan film ini. Menghibur walaupun seringkali terasa bagaikan kumpulan sketsa komedi daripada sebagai sebuah kesatuan cerita yang kuat.
Departemen akting Demi Ucok sendiri mampu memberikan penampilan yang kuat, khususnya dari dua pemeran utama film ini, Geraldine Sianturi dan Mak Gondut. Keduanya mampu memberikan penampilan yang meyakinkan sebagai pasangan ibu dan anak yang saling bersaing dalam menunjukkan kebenaran prinsip hidup masing-masing. Walaupun hadir dengan sikap komedi yang mencuat, namun Geraldine dan Mak Gondut tidak pernah terkesan berlebihan dalam menampilkan aktingnya.
Lalu apa yang dilakukan Sammaria untuk mengikuti kesuksesan besar tersebut? Empat tahun setelahnya, termasuk setelah beberapa jangka waktu proses pengumpulan dana secara gerilya agar filmnya dapat ditayangkan di layar bioskop nasional, Sammaria akhirnya merilis Demi Ucok, sebuah film drama komedi dengan kisah yang terasa sangat personal plus dengan balutan kebudayaan Batak yang kental.
Demi Ucok berkisah mengenai seorang pembuat film muda bernama Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi) yang akrab dipanggil Glo. Setelah kesuksesan film pertamanya yang berhasil meraih penghargaan film bergengsi, Glo menemui kesulitan besar dalam merampungkan film keduanya.
Tidak hanya terhambat dalam mencari ide cerita yang bagus – dan, yang menurutnya, harus naik kelas jika dibandingkan dengan film pertamanya – Glo juga kesulitan mendapatkan dana untuk memproduksi filmnya tersebut. Satu-satunya bantuan yang dapat ia harapkan berasal dari ibu kandungnya sendiri, Mak Gondut (Mak Gondut).
Sayangnya… bantuan tersebut tidak akan datang begitu saja pada Glo. Mak Gondut adalah seorang wanita yang masih memegang teguh kebudayaan Batak dalam kesehariannya. Baginya, kesuksesan seorang wanita diukur dengan keberhasilannya dalam berumah tangga. Dan khusus untuk seorang wanita berdarah Batak, kesuksesan tersebut masih ditambah lagi dengan kemampuan untuk menikah dengan seorang pria Batak.
Usia Glo yang telah menginjak 29 tahun membuat Mak Gondut selalu memburu-buru puterinya untuk segera mencari jodoh. Guna menarik minat puterinya, Mak Gondut lalu memberikan sebuah penawaran: jika Glo mau menikahi seorang pria berdarah Batak, maka Mak Gondut akan memberikan uang yang cukup untuk biaya produksi film. Sebuah penawaran yang jelas ditolak mentah-mentah oleh Glo. Hasilnya… keduanya lantas terlibat dalam sebuah perang pembuktian kebenaran pendapat masing-masing.
Lewat Demi Ucok, Sammaria Simanjuntak sekali lagi membuktikan bahwa dirinya masih memiliki segudang ide-ide cerita besar untuk dituangkan dalam filmnya. Ketika para pembuat film lain masih kelimpungan untuk mencari ide yang nyeleneh untuk dipresentasikan dalam film mereka atau beralih untuk mengadaptasi karya-karya sastra popular, Sammaria justru berpaling pada pengalaman pribadi dalam kesehariannya, baik sebagai seorang puteri yang berasal dari keluarga berdarah Batak maupun sebagai seorang pembuat film.
Namun, tentu saja, sebuah film tidak hanya dapat mengandalkan ide besar semata. Ide besar tersebut harus dapat dikembangkan menjadi sebuah presentasi cerita yang besar pula. Disinilah letak kelemahan Demi Ucok. Layaknya sebuah mobil yang berjalan cepat, Sammaria seperti menekan penuh gas penceritaan Demi Ucok semenjak film ini dimulai. Hasilnya, Demi Ucok benar-benar terasa hadir dengan ritme penceritaan yang cepat dalam mengenalkan deretan karakter serta komedinya di awal film.
Guyonan yang berisi satir mengenai kondisi sosial, politik, industri perfilman nasional hingga guyonan-guyonan yang bernafaskan kebudayaan Batak berhasil disajikan secara penuh pada separuh awal durasi penceritaan film ini. Menghibur walaupun seringkali terasa bagaikan kumpulan sketsa komedi daripada sebagai sebuah kesatuan cerita yang kuat.
Departemen akting Demi Ucok sendiri mampu memberikan penampilan yang kuat, khususnya dari dua pemeran utama film ini, Geraldine Sianturi dan Mak Gondut. Keduanya mampu memberikan penampilan yang meyakinkan sebagai pasangan ibu dan anak yang saling bersaing dalam menunjukkan kebenaran prinsip hidup masing-masing. Walaupun hadir dengan sikap komedi yang mencuat, namun Geraldine dan Mak Gondut tidak pernah terkesan berlebihan dalam menampilkan aktingnya.






0 comments:
Post a Comment